Kartu tanda anggota: apa yang pantas dicetak, dan apa yang tidak
KTA termasuk sedikit benda yang diserahkan organisasi lalu disimpan orang di dompet bertahun-tahun, dan justru karena itu salah memilih kolomnya jadi susah sekali ditarik kembali.
Gugus Depan Elang Rimba punya empat ratus dua puluh anggota di atas kertas, satu mesin laminating sumbangan ayah salah seorang pembina pada 2019, dan satu masalah yang tidak ada yang menyadarinya sampai jambore kwarcab: di gerbang, petugas meminta kartu tanda anggota kepada tiga orang, dan ketiganya mengeluarkan kartu yang secara teknis benar. Lambangnya sama, tata letaknya sama, blok tanda tangannya sama. Persoalannya, satu dari mereka sudah keluar dari gudep delapan belas bulan sebelumnya dan kartunya tetap menyatakan, dengan huruf kapital yang penuh percaya diri, bahwa dia anggota sampai 2027 - karena begitulah bunyi kartu itu pada hari dicetak, dan kartu yang sudah dilaminating tidak punya pendapat apa pun soal apa yang terjadi sesudahnya.
Tidak ada yang berbuat salah di sini. Justru bagian itu yang perlu direnungkan sebentar. Kartunya akurat waktu dibuat, anaknya tidak memalsukan apa-apa, dan sekretaris gudep sudah mengerjakan persis apa yang biasa dikerjakan sekretaris gudep. Kartu itu cuma sebuah foto dari sebuah fakta yang belakangan berubah.
Kalau sedang buru-buru
- Mendesain KTA itu bagian yang gampang, dan panduan tata letaknya ada di bawah kalau memang itu saja yang Anda cari.
- Bagian yang berat adalah menjaga kartunya tetap benar. Kartu yang tidak bisa diperbarui atau dicabut mulai berbohong begitu ada yang keluar.
- Tujuh kolom biasanya sudah cukup. Kebanyakan yang orang tambahkan - golongan darah, alamat rumah, foto - kalau bukan tidak pantas ada di kartu ya tidak bertahan setahun.
- Cetak dan digital bukan saingan. Cetak untuk seremoni, digital untuk apa pun yang benar-benar diperiksa orang.
- Perlu tidaknya kartu bisa diverifikasi tergantung kartu itu memberi akses apa. Kalau tidak membuka apa-apa, tidak usah dibikin rumit.
KTA sebenarnya untuk apa
Kartu Tanda Anggota bisa Anda temukan di hampir semua organisasi yang pernah ingin anggotanya merasa benar-benar jadi anggota - pramuka, koperasi, ikatan profesi, ikatan alumni, klub olahraga, kelompok arisan, sampai ormas segala rupa. Bentuknya bervariasi, dari kertas karton dilaminating yang dibuat di tempat fotokopi seharga Rp 3.000, sampai kartu PVC cetak berhologram yang untuk pesanan kecil harganya lebih dekat ke Rp 15.000 - 25.000 per keping.
Sebelum mendesain apa pun, entah itu soal warnanya, bahannya, ukurannya, atau tata letak kolomnya, ada baiknya berhenti dulu dan bertanya kartu ini sebenarnya untuk apa, karena jawabannya mengubah hampir semua keputusan sesudahnya, dan dari pengalaman saya jawaban jujurnya cuma ada tiga, yang ketiganya sama-sama sah:
| Kartunya sebenarnya untuk… | Yang harus bisa dilakukan | Yang tidak perlu |
|---|---|---|
| Rasa memiliki. Anggota ingin ada sesuatu di dompetnya. | Enak dilihat, namanya tidak salah ketik, terasa kokoh | Verifikasi, penegakan masa berlaku, basis data |
| Akses. Untuk masuk tempat, ikut sesi, dapat harga anggota. | Bisa dicek panitia di pintu dalam sepuluh detik | Cetakan pengaman yang rumit |
| Kedudukan. Menyatakan Anda bersertifikat, terdaftar, terlindungi. | Bisa diverifikasi orang luar, dan bisa dicabut | Jujur saja, tidak harus cantik |
Kebanyakan organisasi merasa dirinya ada di baris ketiga padahal sebenarnya di baris pertama, dan sama sekali tidak ada yang memalukan dari itu - kartu yang ada supaya anak empat belas tahun merasa dirinya anggota pramuka itu sedang mengerjakan tugas yang nyata, dan tidak butuh kode QR untuk mengerjakannya. Yang bikin repot adalah ketika kartu yang dibuat untuk rasa memiliki diam-diam dipakai untuk akses, dan persis itulah yang terjadi di gerbang jambore tadi.
Tips cepat. Tanyakan satu hal ini ke pengurus sebelum mengeluarkan uang sepeser pun, dan tanyakan di forum rapat, bukan di grup WhatsApp yang orangnya gampang mengiyakan: kalau ada yang datang ke pintu membawa kartu yang kita semua tahu sudah dua tahun kedaluwarsa, sebenarnya apa yang akan terjadi? Kalau jawaban jujurnya "ya tidak apa-apa, tetap kita persilakan masuk", berarti Anda sedang membangun untuk rasa memiliki, dan Anda boleh melewati separuh artikel ini yang membahas keamanan tanpa perlu merasa bersalah.
Apa saja yang pantas ada di kartu
Ini tata letak yang akan saya jadikan titik awal, dan saya katakan dari awal bahwa keputusan yang menarik justru soal apa yang tidak dicantumkan, bukan apa yang dicantumkan.
Masa berlaku adalah kolom yang paling sering dilewatkan orang dan paling bisa dipastikan akan disesali. Tanpa itu, kartu membuat klaim yang berlaku selamanya, dan begitulah Elang Rimba berakhir dengan mantan anggota yang memegang dokumen yang secara teknis sah; dengan masa berlaku, kartu itu berhenti jadi bukti pada tanggal yang sudah diketahui semua orang, mau ada yang ingat menariknya kembali atau tidak.
Yang perlu diwaspadai. Mencetak NIK, alamat rumah lengkap, atau tanggal lahir anggota di kartu yang sehari-hari nongkrong di saku belakang celana anak remaja. Ini umum sekali, terasa lengkap dan rapi, dan artinya satu kartu yang hilang sudah cukup untuk dipakai orang lain mengaku-ngaku jadi dia di tempat lain. Kalau organisasi Anda memang butuh data itu, simpan di catatan Anda, bukan di kartunya.
Sebenarnya habis berapa?
Ini sangat bervariasi tergantung jumlah cetak dan finishing, dan angka di bawah sebaiknya dibaca sebagai gambaran bentuknya saja, bukan penawaran harga - percetakan di Malang dan percetakan di Kelapa Gading tidak akan sepakat, dan dua percetakan di jalan yang sama pun belum tentu sepakat.
Coba mainkan kalkulator di bawah dengan jumlah anggota Anda sendiri. Ini hitungan atas angka Anda sendiri, bukan daftar harga dari percetakan mana pun, dan poin yang sebenarnya dibuatnya bukan soal uang sama sekali - melainkan soal seberapa sering Anda harus mencetak ulang setelah cetakan pertama selesai, dan berapa banyak kartu yang terbuang setiap kali itu terjadi.
Perhatikan baris terakhir. Bahkan di ujung yang paling mahal sekalipun, dengan PVC berhologram dan jumlah pesanan yang kecil, kartu anggota jarang jadi hal yang menjebol anggaran sebuah organisasi - jadi biaya hampir tidak pernah menjadi perdebatan yang sebenarnya antara cetak dan digital, meskipun biasanya itu yang diributkan di rapat. Perdebatan yang sebenarnya ada di bawah ini.
Cetak atau digital?
Saya lebih baik tidak berpura-pura bahwa ini kemenangan telak di salah satu sisi, karena memang bukan, dan organisasi yang berpindah sepenuhnya ke digital gara-gara dibilang begitu oleh sebuah artikel biasanya baru sadar belakangan bahwa anggotanya menyukai plastiknya.
| Kartu cetak | Kartu digital | |
|---|---|---|
| Terasa seperti keanggotaan | Ya, sungguhan | Kurang, apa pun yang kita bilang |
| Tetap jalan saat baterai habis | Ya | Tidak |
| Tetap benar setelah ada yang keluar | Tidak, dan memang tidak bisa | Ya, seketika |
| Biaya membetulkan salah ketik | Cetak ulang | Tidak ada |
| Bisa dicek orang luar | Cuma dengan mempercayainya | Ya, kalau ada halaman pengecekan |
| Nilai seremonial saat pelantikan | Tinggi | Nol |
Karena itulah sebagian besar organisasi yang saya amati akhirnya memakai keduanya, dan bukan sebagai jalan tengah supaya dua kubu di kepengurusan sama-sama senang - melainkan sebagai dua benda berbeda yang memang mengerjakan dua tugas berbeda: yang satu untuk dirasakan, yang satu untuk diperiksa. Kartu cetak diserahkan saat pelantikan di depan semua orang lalu difoto, dan itu jadi kenang-kenangan. Yang digital adalah yang benar-benar dilihat petugas di gerbang, karena cuma satu di antara keduanya yang tahu apa yang terjadi bulan lalu.
Seberapa mutakhir kartu Anda sebenarnya?
Centang dengan jujur. Tidak ada yang menilai selain Anda sendiri, dan semua pertanyaannya adalah hal yang pernah saya lihat bermasalah, bukan hal yang saya karang untuk kuis.
Bagian desainnya, karena itu yang dicari kebanyakan orang
Wajar saja - cukup banyak yang membaca ini sebenarnya mencari desain kartu, bukan ceramah soal masa berlaku, dan saya lebih suka memberi sesuatu yang bisa dipakai daripada berpura-pura itu pertanyaan yang salah.
- Kerjakan di ukuran 85,6 × 54 mm dengan bleed 3 mm. Itu CR80, ukuran kartu ATM, dan itulah yang diharapkan semua printer kartu dan semua dompet.
- Nama paling besar. Nama anggota harus jadi hal kedua yang terlihat setelah nama organisasi, dan harus terbaca dari jarak satu lengan oleh orang yang sedang terburu-buru.
- Biarkan pojok kanan bawah kosong. Di situ tempat QR kalau nanti ditambahkan, dan di situ pula jari orang bertumpu kalau tidak.
- Teks gelap di atas terang. Tulisan putih di atas foto gelap kelihatan keren di layar dan hilang di printer murah.
- Beri nomor setiap kartu, bahkan yang cuma dilaminating. Tidak ada biayanya, dan ini mengubah "ada yang kehilangan kartu" jadi fakta yang spesifik.
- Cetak satu dan bawa seminggu sebelum memesan empat ratus. Cara ini menangkap lebih banyak masalah daripada proofing berapa kali pun di layar.
Daftar kolom dan panduan tata letak KTA, gratis, tanpa daftar. Tujuh kolom lengkap dengan gunanya masing-masing, ukuran CR80, daftar hal yang jangan dicetak, dan halaman untuk merancang tata letak Anda sendiri. Ambil yang PDF untuk dicetak, atau versi Word kalau mau diedit.
PDF, 252 KB Word, 12 KBAkhirnya Elang Rimba melakukan apa
Mesin laminatingnya tetap dipakai. Kartu pelantikan tetap diserahkan di depan semua orang, tetap difoto, dan orang tuanya tetap senang - dan saya justru akan membantah kalau mereka mengusulkan menghapusnya, karena kartu itu sedang mengerjakan tugas yang tidak bisa dikerjakan layar ponsel mana pun.
Yang berubah adalah gerbangnya berhenti mempercayai kartu itu. Pengecekan di jambore sekarang berupa pemindaian, bukan lirikan; kartu di dompet jadi kenang-kenangan; dan jawaban atas pertanyaan "orang ini masih anggota kita atau tidak" datang dari daftar yang sama dengan yang mencatat siapa sudah bayar iuran - satu-satunya daftar yang mungkin tahu.
Kalau Anda menjalankan organisasi yang kartunya benar-benar membuka sesuatu, pemisahan itulah kuncinya, dan Anda bisa membangunnya dengan spreadsheet plus daftar cetak di gerbang kalau mau. Anggota menerbitkan kartu anggota digital lengkap dengan tingkat dan masa berlakunya, diperbarui begitu ada yang memperpanjang dan mati begitu ada yang berhenti, berdampingan dengan catatan yang bikin sisa urusan kepengurusan tidak terlalu menyiksa. Silakan coba gratis kalau itu kedengarannya masalah Anda. Dan kalau bukan - kalau kartu Anda ada supaya anak empat belas tahun bisa menunjukkannya ke neneknya - jujur saja, belilah karton yang lebih bagus dan jangan pikirkan lagi soal masa berlaku.
Pertanyaan umum
Ukuran kartu tanda anggota sebaiknya berapa?
CR80, yaitu 85,6 kali 54 mm - sama persis dengan kartu ATM. Ukuran ini layak dipertahankan sekalipun Anda mencetak di karton dan bukan PVC, karena muat di dompet, di holder lanyard, dan di semua printer kartu murah tanpa perlu dipikirkan lagi. Sisakan bleed 3 mm supaya potongannya tidak memakan teks.
Apa saja yang sebaiknya dicetak di kartu anggota?
Nama organisasi, nama anggota, nomor anggota, masa berlaku dan tanda tangan sudah menutup hampir semua kebutuhan. Tambahkan tingkat atau jabatan hanya kalau itu memang mengubah hak akses seseorang, dan kode QR hanya kalau ada sistem yang benar-benar memeriksanya. Lima kolom bekerja lebih keras daripada sepuluh.
Apa yang tidak boleh dicetak di kartu anggota?
Alamat rumah, tanggal lahir, golongan darah, nomor telepon dan NIK. Kartu itu hilang, dipinjam dan difoto orang, dan tidak satu pun dari data itu layak ikut ke mana-mana. Kalau organisasi Anda memang membutuhkannya, simpan di catatan, bukan di kartunya.
Berapa biaya cetak kartu anggota?
Kira-kira Rp 3.000 sampai Rp 25.000 per kartu, dari karton dilaminating di ujung bawah sampai PVC cetak berhologram di ujung atas. Pesanan kecil cenderung mendekati angka atas karena biaya setup yang paling menentukan. Biaya yang lebih besar bukan cetakan pertama, melainkan cetak ulang untuk setiap anggota baru dan setiap koreksi.
Apakah kartu tanda anggota diwajibkan secara hukum?
Tidak. Tidak ada aturan yang mewajibkan perkumpulan, organisasi atau badan kemahasiswaan biasa menerbitkan KTA. Sebagian organisasi induk dan sebagian koperasi punya ketentuan sendiri soal ini, jadi cek ke atas dulu sebelum berasumsi, tapi bagi kebanyakan organisasi kartu itu pilihan, bukan kewajiban.
Sebaiknya pakai kartu cetak atau digital?
Kebanyakan organisasi akhirnya memakai keduanya, dan bukan sebagai jalan tengah. Kartu cetak diserahkan saat pelantikan, difoto, lalu disimpan, dan itu tugas seremonialnya. Yang digital adalah yang benar-benar dilihat petugas di gerbang, karena cuma satu di antara keduanya yang tahu apa yang terjadi bulan lalu.